Sekali Lagi Tentang Mengelola Keuangan

Di usia yang sudah kepala 3 ini, saya punya beberapa hobi yang sedang saya tekuni. Salah satunya lari. Kalau kalian pernah baca postingan lampau, saya pernah sedikit bercerita bagaimana saya memulai olahraga ini.

Sejak tahun 2024, saya mulai rajin mengikuti event-event lari yang ada. Kalau kata orang,"Ngapain sih bayar buat lari? Lari mah lari aja. Gratis." Gak salah, tapi juga gak tepat. Event-event lari itu memberikan experience yang jelas berbeda dibandingkan lari sendiri. Event lari, buat saya pelari rekreasional, itu menambah sisi fun dalam berlari.

Nah, menjelang akhir tahun ini, ada dua event lari yang saya tunggu-tunggu: Borobudur Marathon dan Siksorogo Lawu Ultra. Satunya road, satunya trail. Sudah 2x ikut ballot Borobudur Marathon dan selalu Rejected. Sementara SLU adalah wishlist baru karena tahun ini saya mulai rajin nge-trail, jadi penasaran juga sama SLU.

Sayangnya, semua event lari tahun ini harganya naik drastis. Ya in this economy naik 200ribu itu sudah lumayan banget. Sampai di titik saya contemplating, mau milih BorMar atau SLU. Karena kalau harus dua-duanya gak masuk budget. Sama-sama mahal.

BorMar dengan semarak 1 dekadenya. SLU dengan target personal mau menaklukkan trail 30K.

Di sisi lain, bulan ini saya mendapatkan dividen dari investasi saham saya. Gak terlalu besar, tapi cukup buat tambahan biaya regis. Bisa lho sebenarnya, pakai dividen supaya gak perlu pusing milih antara BorMar atau SLU. Dan gak salah juga, toh memang hak saya.

Nah, di titik itu lah kemudian refleksi ini hadir. :D

Ternyata mengelola keuangan gak cukup hanya dengan strategi atau rencana. Yang tidak kalah penting adalah komitmen atau disiplin.

Investasi itu strategi, menginvestasikan kembali dividen itu strategi, tapi pelaksanaannya butuh komitmen. Mau sebagus apapun strateginya, kalau tidak ada komitmen untuk melakukan, ya sama aja bohong.

Sebagai orang yang pakai kartu kredit dan juga punya KPR, saya bisa bilang, hutang itu strategi. Tapi butuh komitmen untuk membayar dengan patuh. Kalau komitmennya gak dijalankan ya hancur keuangan. Hutang makin numpuk, bunga makin banyak, dan sebagainya.

Jadi, selain bijak dalam mengelola keuangan, juga perlu disiplin dalam mengelola keuangan.

So in this economy, semoga kita semua bisa lebih bijak dan lebih disiplin lagi dalam mengelola keuangan. Semangat pejuang rupiah. Sehat selalu.

Komentar