Outsourcing vs Project Based

Bulan Oktober ini menandai tepat 5 tahun sejak saya memulai karir sebagai seorang programmer. Berawal dari satu kantor vendor IT, 3 kali pindah, dan kini masih tetap bekerja di vendor/konsultan IT.

Serupa tapi tak sama. Meskipun keempat kantor yang pernah saya jalani merupakan vendor/konsultan IT tapi keempatnya tentu saja berbeda. Misalnya saja, satu kantor lebih banyak project di instansi pemerintah, satu kantor hanya memilih klien dari sektor swasta. Misalnya lagi, satu kantor punya banyak macam posisi seperti DBA, BI, App Server, SOA, Developer, dan sebagainya, satu kantor hanya punya 2 fungsi, technical dan functional.

Kali ini saya mau membahas tentang 2 model bisnis yang berbeda dan apa yang saya rasakan tentang keduanya. Kedua model bisnis yang dimaksud adalah outsourcing dan project based. Yuk mulai.

#Persamaan

Sama-sama bekerja dengan/untuk klien.
Sama-sama pekerjaan dengan waktu tertentu.

#Perbedaan

Perbedaan paling mendasar adalah tanggung jawabnya. Pada model project-based, scope pekerjaan sudah ditetapkan di awal dan disetujui oleh kedua belah pihak yaitu perusahaan dan klien. Sedangkan pada model outsourcing, tidak ada persetujuan terkait scope karena pekerja akan bekerja langsung kepada klien, bertanggungjawab pada klien. Pekerja outsourcing bekerja sesuai instruksi dari klien, seolah-olah pekerja tersebut merupakan pegawai perusahaan klien.

Jika panjang kontrak project ditentukan dari scope project maka panjang kontrak outsourcing ditentukan oleh kebutuhan klien.

Kalau mau cuti/ijin, di project cukup ijin project manager atau reporting manager atau project lead. Di sistem outsourcing, harus ijin ke klien, biasanya PM atau RM akan serta merta mengikuti ijin dari klien. Sekali lagi karena pekerja outsource bertanggungjawab langsung kepada klien.

#Enak mana

Wah ini. Saya sudah merasakan keduanya. Dari beberapa sisi, project-based menurut saya lebih enak.
Pertama, kita tidak harus mengikuti aturan perusahaan klien. Namanya juga alih daya, kalau kantor klien masuk jam 8 ya ikut. Kalau project beda, saya mau datang jam 11 ya klien juga gak punya hak untuk marah. Kalau projectnya sudah off track nah baru deh marah-marah.
Kedua, karena scopenya sudah ditentukan dari awal jadi akan lebih mudah untuk memprediksi beban pekerjaan. Yang namanya pengembangan perangkat lunak kan ada fase-fasenya dan setiap fase punya "aktor"-nya masing-masing. Berbeda dengan outsourcing, tidak bisa diprediksi.

Outsourcing-nya IT beda kok sama outsourcing di bidang lain. Meskipun outsourcing tapi kalian tetap dapat benefit layaknya karyawan seperti asuransi kesehatan, BPJS, dan sebagainya. Termasuk menjadi karyawan tetap di perusahaan tersebut. Hanya saja kerjanya di bawah klien langsung.

Itu sedikit berbagi tentang 2 model bisnis yang diadopsi oleh perusahaan IT. Semoga bermanfaat.

Komentar